MENUNTUT ILMU DALAM PANDANGAN ISLAM
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat (Q.s. al-Mujadalah : 11)
Barang siapa yang menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga (HR Muslim)
Barangsiapa yang menginginkan kehidupan dunia, mak ia harus memiliki
ilmu, dan barang siapa yang menginginkan kehidupan akhirat maka itupun
harus dengan ilmu, dan barang siapa yang menginginkan keduanya maka
itupun harus dengan ilmu (HR. Thabrani)
Dari Abdullah bin Mas’ud r.a. Nabi Muhamad pernah bersabda :”Janganlah
ingin seperti orang lain, kecuali seperti dua orang ini. Pertama orang
yang diberi Allah kekayaan berlimpah dan ia membelanjakannya secara
benar, kedua orang yang diberi Allah al-Hikmah dan ia berprilaku sesuai
dengannya dan mengajarkannya kepada orang lain (HR Bukhari)
1). Ilmu adalah cahaya
Allah Ta’ala berfirman:
قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ يَهْدِي بِهِ
اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ
الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَى صِرَاطٍ
مُسْتَقِيمٍ
“Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang
menerangkan . Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang
mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan Allah mengeluarkan
mereka dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan
seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.”
(
QS.Al-Maidah:5-6)
Kedua ayat ini menunjukkan tentang keutamaan ilmu, yang disifatkan
sebagai cahaya yang membimbing siapa saja yang mengikuti keridhaan-Nya
menuju jalan-jalan keselamatan, berupa jalan yang menyelamatkan seorang
hamba dari penyimpangan dan kesesatan, dan mengantarkan seorang hamba
menuju keselamatan dunia dan akhirat, mengeluarkan mereka dari
kegelapan, kegelapan syirik, bid’ah, kemaksiatan dan kejahilan, menuju
kepada cahaya tauhid, ilmu, hidayah, ketaatan dan seluruh kebaikan.
Oleh karenanya, jika seseorang lebih condong mengikuti hawa
nafsunya, gemar melakukan kemaksiatan, yang menyebabkan hatinya menjadi
gelap, maka ilmu akan sulit menempati hati yang gelap tersebut, sulit
menghafal ayat- ayat Allah dan men-tadabburi-nya, sulit menghafal
hadits-hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, memahami dan
mengaplikasikan dalam kehidupannya, sebab tidak akan mungkin berkumpul
dalam satu hati antara kegelapan maksiat dengan cahaya ilmu.
2). Ilmu merupakan tanda kebaikan seorang hamba
Ketika seorang hamba diberi kemudahan untuk memahami dan mempelajari
ilmu syar’i, itu menunjukkan bahwa Allah menghendaki kebaikan bagi hamba
tersebut, dan membimbingnya menuju kepada hal-hal yang diridhai-Nya.
Kehidupannya menjadi berarti, masa depannya cemerlang, dan kenikmatan yang tak pernah dirasakan di dunia pun akan diraihnya.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
من يُرِدْ الله بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ في الدِّينِ
“Siapa yang Allah kehendaki kebaikan kepada seorang hamba maka Ia akan difahamkan tentang agamnya.”
(Muttafaq Alaihi dari Muawiyah bin Abi Sufyan Radhiallahu anhuma)
Dan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ عز وجل خَلَقَ خَلْقَهُ في ظُلْمَةٍ فَأَلْقَى عليهم من
نُورِهِ فَمَنْ أَصَابَهُ من ذلك النُّورِ اهْتَدَى وَمَنْ أَخْطَأَهُ
ضَلَّ
“Sesungguhnya Allah Azza Wajalla menciptaan makhluk-Nya dalam
kegelapan, Lalu Allah memberikan kepada mereka dari cahaya-Nya, maka
siapa yang mendapatkan cahaya tersebut, maka dia mendapatkan hidayah,
dan siapa yang tidak mendapatkannya maka dia tersesat.”
(HR. Ahmad (2/176), Tirmidzi,no:2642, Ibnu Hibban (6169),Al-Hakim
dalam mustadrak (1/84), dari hadits Abdullah bin Amr bin Ash. Disahihkan
Al-Albani dalam Ash-Shahihah (3/1076)
3). Ilmu agama menyelamatkan dari laknat Allah Azza Wajalla
Disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu
Hurairah Radhiallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
bersabda:
إِنَّ الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ مَلْعُونٌ ما فيها إلا ذِكْرُ اللَّهِ وما وَالَاهُ وَعَالِمٌ أو مُتَعَلِّمٌ
“Sesungguhnya dunia itu terlaknat, terlaknat segala isinya, kecuali
zikir kepada Allah dan amalan- amalan ketaatan, demikian pula seorang
yang alim atau yang belajar.”
(HR.Tirmidzi (2322), Ibnu Majah (4112), dihasankan Al-Albani dalam sahih al-jami’,no:1609)
4). Menuntut Ilmu, jalan menuju surga
Disebutkan dalam sahih Muslim, dari hadits Abu Hurairah Radhiallahu anha, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فيه عِلْمًا سَهَّلَ الله له بِهِ طَرِيقًا إلى الْجَنَّةِ
“Barangsiapa yang menempuh satu jalan untuk mendapatkan ilmu, maka
Allah menudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR.Muslim:2699)
Hadits ini menerangkan bahwa seorang yang keluar untuk menuntut ilmu,
akan menjadi sebab masuknya seorang hamba ke dalam surga. Mengapa
demikian? Ya, tatkala seorang muslim mempelajari agamanya dengan penuh
keikhlasan, maka dia akan dimudahkan untuk memahami mana yang baik dan
mana yang buruk, antara yang halal dan yang haram, yang haq dan yang
batil, lalu dia berusaha mengamalkan apa yang telah ia ketahui dari ilmu
tersebut, sehingga ia menggabungkan antara ilmu dan amal dengan
keikhlasan dan mengikuti bimbingan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam ,
maka dia menjadi seorang hamba yang diridhai-Nya, dan tiada balasan dari
Allah Ta’ala bagi hamba yang diridhai-Nya melainkan surga.
5). Ilmu lebih utama dari ibadah
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
فضل العلم أحب إلي من فضل العبادة و خير دينكم الورع
“Keutamaan ilmu lebih aku sukai dari keutamaan ibadah, dan sebaik-baik agama kalian adalah bersikap wara’[1].”
(
HR.Al-Hakim, Al-Bazzar, At-Thayalisi, dari Hudzaifah bin Yaman Radhiallahu Anhu. Disahihkan Al-Albani dalam sahih al-jami’:4214)
Dalam riwayat lain, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ على الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ على سَائِرِ الْكَوَاكِبِ
“Sesungguhnya keutamaan seorang yang berilmu dibanding ahli ibadah,
seperti keutamaan bulan dimalam purnama dibanding seluruh bintang-
bintang.”
(
HR.Abu Dawud (3641), Ibnu Majah (223), dari hadits Abu Darda’ Radhiallahu Anhu)
Yang dimaksud hadits ini bahwa memiliki ilmu dengan cara menuntutnya,
atau mengajarkannya, merupakan amalan ibadah yang lebih utama dibanding
amalan ibadah lainnya, seperti shalat sunnah, berpuasa sunnah, dan yang
lainnya. Bukan yang dimaksud hadits ini bahwa ilmu bukan bagian dari
ibadah, namun maksudnya bahwa ilmu merupakan bagian ibadah yang paling
mulia, bahkan bagian dari jihad fi sabilillah.
Masih banyak lagi keutamaan ilmu yang dijelaskan di dalam Al-qur’an dan
Sunnah, namun semoga yang sedikit ini menjadi pemicu semangat kita untuk
mendekatkan diri kepada Allah dengan berusaha menggali ilmu-ilmuNya.
[1] Wara’ adalah meninggalkan sesuatu yang dikhawatirkan memudaratkan kehidupan akhiratnya.
SUMBER:
http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2013/07/21/keutamaan-menuntut-ilmu-agama-2/
http://belajarsambilberdakwah.blogspot.com/