RESEPTOR
I.
Tanggal Praktikum : 20 Maret 2014
II.
Tujuan
Mengamati
gejala aktivitas reseptor di mata, kulit, telinga, dan lidah, untuk menentukan:
-
area bintik buta
(blind spot area)
-
kepekaan dan distribusi reseptor di kulit
-
lokasi sumber suara
-
kepekaan (variasi waktu) dan distribusi kepekaan
di lidah
VIII.
Pembahasan
a.
reseptor mata
berdasarkan percobaan diperoleh hasil dimana rata-rata jarak
bintik buta sebelah kanan 43.6 cm dan mata kiri 48.9 cm. sebenarnya jarak
bintik buta mata kiri dan kanan adalah sama. Penyebb bayangan benda tidak
terlihat pada jarak tertentu karena pembiasan cahaya dari benda tersebut jatuh
pada bagian bintik buta yang ada pada retina. Cahaya yang jattuh pada bintik
buta tidak mengenai sel-sel batang dan sel-sel kerucut sehingga tidak ada impuls yang diteruskan ke saraf optik,
dan menyebabkan otak tidak dapat mengolah informasi.
Jarak normal bintik buta untuk bayagan benda kabur atau hilang
adalah ± 40 cm dan untuk muncul kembali adalah ± 28 cm.
Perbedaan yang diperoleh antara hasil yang didapat dengan
teori kemungkinan karena human eror (ketidaktelitian/kesalahan dalam
menjalankan praktikum).
b.
reseptor telinga
reseptor yang terdapat di telinga selain berfungsi menangkap
rangsang, juga berfungsi sebagai keseimbangan. Suara masuk melalui daun telinga
sehingga bergetar lalu masuk ke liang telinga.
Sruktur daun telinga yang terbuat dari tulang rawan mendukung fungsinya
untuk merambatkan suara. Suara lebih jelas arah asalnya ketika dibunyikan dari samping. Hal ini dikarenakan
bentuk daun telinga yang terbuka ke samping.
Berdasarkan hasil percobaan dapat dilihat bahwa tiap probandus
dari tiap kelompok memiliki kepekaan reseptor yang berbeda-beda. Perbedaan ini
kemungkinan disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu tingkat konsentrasi, kesehatan
telingan, dan kepekaan reseptornya.
c.
reseptor kulit
setiap titik pada tangan memiliki distribusi kepekaan reseptor
yang berbeda-beda. Data yang benar seharusnya korpuskel ruffini lebih banyak
pada punggung tangan, hal tersebut ditunjukkan dengan persentase kepekaan
rangsang panas pada punggung tangan yang lebih besar dibanding di telapak
tangan.
Hasil yang diperoleh tiap kelompok bervariasi. Beberapa faktor
yang mungkin menjadi penyebab perbedaan itu adalah:
- * tingkat konsentrasi dan ketelitian probandus
dalam mengenali rangsang
- *
intensitas (kuat/lemahnya) sentuhan jarum yang
tidak sama di tiap titik
Ada beberapa masalah yang timbul dalam praktikum ini,
diantaranya :
-
* logam yang dicelupkan di air panas/dingin cepat
mengalami perubahan suhu, yaitu logam panas
mudah berubah menjadi dingin, dan sebaliknya.
- * teman yang bertugas menyentuhkan logam, lupa
mana titik yang sudah disentuh dan yang mana yang belum.
d.
reseptor lidah
rasa pahit paling peka dirasakan yaitu di bagian pangkal
lidah, rasa asam di bagian samping lidah, manis di tengah, dan asin di ujung
lidah. Namun probandus ada yang kesulitan menebak rasa untuk beberapa detik.
Hal ini mungkin karena rangsang rasa yang diberikan tidak pada bagian yang
memiliki reseptor untuk rasa tersebut.
tingkat kecepatan probandus dalam menerjemahkan rangsang rasa
berbeda-beda tiap kelompok.
Dalam praktikum, probandus harus berkumur terlebih dahulu
sebelum dites dengan rangsang rasa. Hal ini dilakukan untuk memastikan area
mulut sudah bersih dengan laritan uji sebelumnya sehingga mudah untuk menebak
rasa selanjutnya.
Probandus diuji untuk menebak rasa dan dihitung lamanya ia
menebak selama waktu tersebut otak sedang membaca impuls yang diterimanya. Percobaan
menempatkan rasa di lokasi yang tidak sesuai dengan reseptor rasa tersebut,
bertujuan untuk menguji lidah pada bagian itu memang tidak memiliki reseptor
yang dimaksud. Untuk beberapa saat ,
lidah tidak merasakan rasa tersebut (karena memang tidak ada reseptornya). Lalu
setelah agak lama, probandus bisa menebak. Kemungkinan larutan sudah menyebar
pada bagian-bagian lidah yang lain sehingga dapat dikenali rangsang tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar