HANDLING, PEMBERIAN PERLAKUAN,
DAN PENGAMBILAN SAMPEL BERBAGAI HEWAN PERCOBAAN
Tanggal Praktikum : 13
Maret 2014
D. Pembahasan
Cara memegang (handling) mencit berbeda dengan
handling tikus. Alasan utamanya tentu karena perbedaan ukuran tubuh keduanya. Tikus
berukuran lebih besar daripada mencit sehingga kekuatannya pun juga lebih
besar. Oleh karena itu, dalam meng-handling tikus diperlukan teknik yang lebih
khusus.
Meng-handling mencit hanya mengandalkan
pegangan pada kulit longgar di bagian lipatan kulit tengkuk hingga ke bagian
belakang saja. Sedangkan dalam meng-handling tikus, diperlukan tiga kuncian
jari (telunjuk, jari tengah, dan ibu jari). Setelah yakin kuncian tersebut
kuat, baru kemudian membalikkan posisi tubuh tikus. Handling tikus dan mencit perlu dipastikan bahwa
tikus/mencit tersebut sudah nyaman dengan posisinya di tangan kita. Hal ini
ditandai dengan sikap tikus/mencit yang tidak banyak bergerak untuk melepaskan
diri.
Perlu diwaspadai jika tikus/mencit tersebut
tidak nyaman, bisa jadi ia akan menggigit jari praktikan. Jika hal itu terjadi,
jangan menarik tikus/mencit tersebut, tetapi biarkan saja dan tetap tenang agar
lepas dengan sendirinya. Seperti yang kita ketahui gigi rodensia/hewan pengerat
dapat merobek kulit.
Ketidaknyamanan tikus/mencit dalam tangan kita
bisa juga menimbulkan kecelakaan untuk tikus/mencit itu sendiri. Misalnya dalam
pemberian perlakuan, jangan sekali-kali melepaskan tikus/mencit jika sonde masih
ada di dalam tubuh tikus/mencit tersebut, karena akan membahayakannya.
Memegang ekor tikus/mencit juga perlu diperhatikan,
yaitu memegang pada bagian ½ ekornya (mendekati pangkal). Selain itu pastikan tangan
kita juga harus jauh dari area sekitar mulut tikus/mencit agar tidak digigit.
Hambatan yang ditemui ketika meng-handling adalah
rasa takut untuk memegang tikus/mencit. Hal itu berpengaruh terhadap
kuat/lemahnya kita dalam memegang tikus/mencit. Jika pegangan kita lemah, tikus/mencit
akan dapat mudah lepas. Sebaliknya, jika pegangan kita terlalu kuat, akan membuat
tikus/mencit cidera (parahnya, tulang tikus/mencit akan bergeser dan bisa
menyebabkan kematian untuk si tikus/mencit). Jadi, hati-hati dalam
memperlakukan mereka.
Alat sonde (kanul bengkok) adalah jarum
berujung bulat dan berubang di bagian sampingnya, digunakan untuk memasukkan
senyawa langsung ke lambung melalui esophagus. Ujung sonde yang bulat bertujuan
agar tidak melukai organ dalam tikus/mencit. Sonde dimasukkan hingga batas
sonde. Ada hambatan dalam memberi perlakuan ini, yaitu rasa iba terhadap tikus/mencit
ketika memasukkan sonde. Ketika menyonde, kanul bengkok yang digunakan untuk
mencit berbeda dengan alat sonde untuk tikus. Kanul bengkok untuk mencit
tentunya berukuran lebih kecil.
Pengambilan darah dilakukan oleh laboran sebagai
peraga yang sudah ahli. Bagian tubuh tikus/mencit yang diambil darahnya berbeda
antara ingin mengambil sedikit/banyak darah. Jika sedikit, cukup di vena bagian
ekor. Jika masih kurang, ambil dengan memotong satu jari kaki. Jika ingin
mengambil darah yang lebih banyak, laboran memberi contoh mengambil bagian pada
sinus orbitalis menggunakan tabung mikrohematorit. Hambatan yang muncul
lagi-lagi karena ras iba.
Apabila tikus/mencit sudah terluka, jangan
dikembalikan ke kandang bersama teman-temannya lagi, karena dalam keadaan
lapar, tikus/mencit bersifat kanibal dan memakan temannya yang lemah.
Praktikan harus tetap fokus dan konsentrasi. Perbedaan
tikus/mencit betina dengan yang jantan cukup jelas. Tikus/mencit jantan
memiliki testis yang terlihat jelas
(namun ketika stres kadang disembunyikan sehingga tidak terlihat), selain itu
hanya memiliki satu lubang yaitu anus. Sedangkan tikus/mencit betina memiliki
dua lubang, yaitu anus dan vagina. Lubang anus yang letaknya dekat dengan
pangal ekor.
Rasa iba yang muncul diatasi dengan keyakinan
bahwa yang dilakukan ini adalah untuk ilmu pengetahuan, oleh karena itu, kita
harus belajar sungguh-sungguh agar hewan-hewan percobaan itu benar-benar
bermanfaat dan tidak sia-sia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar