Let's study

BELAJAR ITU TIDAK MENGENAL BATASAN USIA. NIATKAN HATI UNTUK MENCARI ILMU IKHLAS KARENA ALLAH, DAN BERHARAP AGAR ILMU YANG TELAH DIPEROLEH BISA BERMANFAAT DI DUNIA DAN AKHIRAT
SALAM :)

Kamis, 07 Agustus 2014



RESEPTOR

I. Tanggal Praktikum : 20 Maret 2014

II. Tujuan
      Mengamati gejala aktivitas reseptor di mata, kulit, telinga, dan lidah, untuk menentukan:
-          area bintik buta  (blind spot area)
-          kepekaan dan distribusi reseptor di kulit
-          lokasi sumber suara
-          kepekaan (variasi waktu) dan distribusi kepekaan di lidah

VIII. Pembahasan

a.       reseptor mata
berdasarkan percobaan diperoleh hasil dimana rata-rata jarak bintik buta sebelah kanan 43.6 cm dan mata kiri 48.9 cm. sebenarnya jarak bintik buta mata kiri dan kanan adalah sama. Penyebb bayangan benda tidak terlihat pada jarak tertentu karena pembiasan cahaya dari benda tersebut jatuh pada bagian bintik buta yang ada pada retina. Cahaya yang jattuh pada bintik buta tidak mengenai sel-sel batang dan sel-sel kerucut sehingga tidak  ada impuls yang diteruskan ke saraf optik, dan menyebabkan otak tidak dapat mengolah informasi.
Jarak normal bintik buta untuk bayagan benda kabur atau hilang adalah ± 40 cm dan untuk muncul kembali adalah ± 28 cm.
Perbedaan yang diperoleh antara hasil yang didapat dengan teori kemungkinan karena human eror (ketidaktelitian/kesalahan dalam menjalankan praktikum).

b.      reseptor telinga

reseptor yang terdapat di telinga selain berfungsi menangkap rangsang, juga berfungsi sebagai keseimbangan. Suara masuk melalui daun telinga sehingga bergetar lalu masuk ke liang telinga.  Sruktur daun telinga yang terbuat dari tulang rawan mendukung fungsinya untuk merambatkan suara. Suara lebih jelas arah asalnya ketika  dibunyikan dari samping. Hal ini dikarenakan bentuk daun telinga yang terbuka ke samping.
Berdasarkan hasil percobaan dapat dilihat bahwa tiap probandus dari tiap kelompok memiliki kepekaan reseptor yang berbeda-beda. Perbedaan ini kemungkinan disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu tingkat konsentrasi, kesehatan telingan, dan kepekaan reseptornya.
c.       reseptor kulit 

setiap titik pada tangan memiliki distribusi kepekaan reseptor yang berbeda-beda. Data yang benar seharusnya korpuskel ruffini lebih banyak pada punggung tangan, hal tersebut ditunjukkan dengan persentase kepekaan rangsang panas pada punggung tangan yang lebih besar dibanding di telapak tangan.
Hasil yang diperoleh tiap kelompok bervariasi. Beberapa faktor yang mungkin menjadi penyebab perbedaan itu adalah:
-         * tingkat konsentrasi dan ketelitian probandus dalam mengenali rangsang
-         * intensitas (kuat/lemahnya) sentuhan jarum yang tidak sama di tiap titik

Ada beberapa masalah yang timbul dalam praktikum ini, diantaranya :
-          * logam yang dicelupkan di air panas/dingin cepat mengalami perubahan suhu, yaitu logam  panas mudah berubah menjadi dingin, dan sebaliknya.
-        * teman yang bertugas menyentuhkan logam, lupa mana titik yang sudah disentuh dan yang mana yang belum.

d.      reseptor lidah
rasa pahit paling peka dirasakan yaitu di bagian pangkal lidah, rasa asam di bagian samping lidah, manis di tengah, dan asin di ujung lidah. Namun probandus ada yang kesulitan menebak rasa untuk beberapa detik. Hal ini mungkin karena rangsang rasa yang diberikan tidak pada bagian yang memiliki reseptor untuk rasa tersebut. 
tingkat kecepatan probandus dalam menerjemahkan rangsang rasa berbeda-beda tiap kelompok.
Dalam praktikum, probandus harus berkumur terlebih dahulu sebelum dites dengan rangsang rasa. Hal ini dilakukan untuk memastikan area mulut sudah bersih dengan laritan uji sebelumnya sehingga mudah untuk menebak rasa selanjutnya.

Probandus diuji untuk menebak rasa dan dihitung lamanya ia menebak selama waktu tersebut otak sedang membaca impuls yang diterimanya. Percobaan menempatkan rasa di lokasi yang tidak sesuai dengan reseptor rasa tersebut, bertujuan untuk menguji lidah pada bagian itu memang tidak memiliki reseptor yang dimaksud.  Untuk beberapa saat , lidah tidak merasakan rasa tersebut (karena memang tidak ada reseptornya). Lalu setelah agak lama, probandus bisa menebak. Kemungkinan larutan sudah menyebar pada bagian-bagian lidah yang lain sehingga dapat dikenali rangsang tersebut.

Senin, 04 Agustus 2014



HANDLING, PEMBERIAN PERLAKUAN,
DAN PENGAMBILAN SAMPEL BERBAGAI HEWAN PERCOBAAN


Tanggal Praktikum           : 13 Maret 2014

D. Pembahasan
Cara memegang (handling) mencit berbeda dengan handling tikus. Alasan utamanya tentu karena perbedaan ukuran tubuh keduanya. Tikus berukuran lebih besar daripada mencit sehingga kekuatannya pun juga lebih besar. Oleh karena itu, dalam meng-handling tikus diperlukan teknik yang lebih khusus. 

Meng-handling mencit hanya mengandalkan pegangan pada kulit longgar di bagian lipatan kulit tengkuk hingga ke bagian belakang saja. Sedangkan dalam meng-handling tikus, diperlukan tiga kuncian jari (telunjuk, jari tengah, dan ibu jari). Setelah yakin kuncian tersebut kuat, baru kemudian membalikkan posisi tubuh tikus. Handling  tikus dan mencit perlu dipastikan bahwa tikus/mencit tersebut sudah nyaman dengan posisinya di tangan kita. Hal ini ditandai dengan sikap tikus/mencit yang tidak banyak bergerak untuk melepaskan diri. 

Perlu diwaspadai jika tikus/mencit tersebut tidak nyaman, bisa jadi ia akan menggigit jari praktikan. Jika hal itu terjadi, jangan menarik tikus/mencit tersebut, tetapi biarkan saja dan tetap tenang agar lepas dengan sendirinya. Seperti yang kita ketahui gigi rodensia/hewan pengerat dapat merobek kulit. 

Ketidaknyamanan tikus/mencit dalam tangan kita bisa juga menimbulkan kecelakaan untuk tikus/mencit itu sendiri. Misalnya dalam pemberian perlakuan, jangan sekali-kali melepaskan tikus/mencit jika sonde masih ada di dalam tubuh tikus/mencit tersebut, karena akan membahayakannya.

Memegang ekor tikus/mencit juga perlu diperhatikan, yaitu memegang pada bagian ½ ekornya (mendekati pangkal). Selain itu pastikan tangan kita juga harus jauh dari area sekitar mulut tikus/mencit agar tidak digigit.

Hambatan yang ditemui ketika meng-handling adalah rasa takut untuk memegang tikus/mencit. Hal itu berpengaruh terhadap kuat/lemahnya kita dalam memegang tikus/mencit. Jika pegangan kita lemah, tikus/mencit akan dapat mudah lepas. Sebaliknya, jika pegangan kita terlalu kuat, akan membuat tikus/mencit cidera (parahnya, tulang tikus/mencit akan bergeser dan bisa menyebabkan kematian untuk si tikus/mencit). Jadi, hati-hati dalam memperlakukan mereka. 

Alat sonde (kanul bengkok) adalah jarum berujung bulat dan berubang di bagian sampingnya, digunakan untuk memasukkan senyawa langsung ke lambung melalui esophagus. Ujung sonde yang bulat bertujuan agar tidak melukai organ dalam tikus/mencit. Sonde dimasukkan hingga batas sonde. Ada hambatan dalam memberi perlakuan ini, yaitu rasa iba terhadap tikus/mencit ketika memasukkan sonde. Ketika menyonde, kanul bengkok yang digunakan untuk mencit berbeda dengan alat sonde untuk tikus. Kanul bengkok untuk mencit tentunya berukuran lebih kecil. 

Pengambilan darah dilakukan oleh laboran sebagai peraga yang sudah ahli. Bagian tubuh tikus/mencit yang diambil darahnya berbeda antara ingin mengambil sedikit/banyak darah. Jika sedikit, cukup di vena bagian ekor. Jika masih kurang, ambil dengan memotong satu jari kaki. Jika ingin mengambil darah yang lebih banyak, laboran memberi contoh mengambil bagian pada sinus orbitalis menggunakan tabung mikrohematorit. Hambatan yang muncul lagi-lagi karena ras iba.
Apabila tikus/mencit sudah terluka, jangan dikembalikan ke kandang bersama teman-temannya lagi, karena dalam keadaan lapar, tikus/mencit bersifat kanibal dan memakan temannya yang lemah.

Praktikan harus tetap fokus dan konsentrasi. Perbedaan tikus/mencit betina dengan yang jantan cukup jelas. Tikus/mencit jantan memiliki  testis yang terlihat jelas (namun ketika stres kadang disembunyikan sehingga tidak terlihat), selain itu hanya memiliki satu lubang yaitu anus. Sedangkan tikus/mencit betina memiliki dua lubang, yaitu anus dan vagina. Lubang anus yang letaknya dekat dengan pangal ekor.

Rasa iba yang muncul diatasi dengan keyakinan bahwa yang dilakukan ini adalah untuk ilmu pengetahuan, oleh karena itu, kita harus belajar sungguh-sungguh agar hewan-hewan percobaan itu benar-benar bermanfaat dan tidak sia-sia.